kudapan di depanku memang sungguh menggangu. melihatnyapun sungguh tak tahan rasanya hati. hitam pekat, warna coklat tua. bagaimna bila benda itu nanti sampai di lambungku. sungguh tak bisa ku bayangkan. sesekali kulihat lalat yang seaakan ngece kepadaku. berharap makan yang lezat, bagi lalat kotoranpun terasa nikmat.
sebulan penuh aku selalu bernostalgia dengan pemandangan ini. seakan adegan yang sama, rindu ini juga masih saja sama. pun dengan lalat serta makanan menjijikan itu.
sebenarnya sempat ingin kumemakanya. tapi berkali2 lalat2 menendang wajahku. "apa yang kamu lakukan?" ucapnya padaku.
seketika aku merenung. mengingat kembali kejadian sebulan silam di jembatan sumberjogo.
kala itu, aku melihatnya begitu rapi dngan rambut terkuncit dan baju merah serta rok panjang berwarna biru tua. sebanrnya aku selalu menyapanya setiap dia lewat di depan pandanganku. tapi rasanya kali ini berbeda. rasa canggung mulai membuat mulutku kelu. hatiku begitu kacau, bahkan pikiranpun sekiranya tak mau ketinggalan dengan suasana pada waktu itu.
wajahnya yang kuning langsat begitu bersinar ketika bayangan mega merah jatuh tepat di kelopak matanya yang sesekali berkedip akibat debu di aspal jembatan.
akhirnya kuberanikanlah untuk mengajak kakiku melangkah mendekatinya. baru satu langkah. dia duluan yang menyapaku. "baru dari mana bang?" . rasa kelu tiba-tiba hilang. dan hasrat hatiku tak bisa terbendung.

Komentar
Posting Komentar